KULTUR STRAIGHT EDGE
Seringkali orang awam memandang bahwa scene indie merupakan sebuah komunitas underground yang identik dengan hal-hal yang ‘negatif’ misalnya seperti drugs, alcohol, dan freesex. Ditambah oleh peran media yang terkesan memojokkan terhadap perihal tersebut. Bila kita telusuri lebih dalam dan mencermati dari berbagai subkultur yang ada, mungkin akan menjadi bahan diskusi yang panjang mengenai kebudayaan barat yang satu ini. Mungkin sebagian dari kalian yang sudah lama berkecimpung di scene punk/hardcore sudah memahami apa itu straight edge (sXe). Ya, tidak ada salahnya saya kembali mengangkat ke permukaan sebagai “brainstorming” dan lebih kepada khalayak, bahwa music underground sekalipun memiliki pergerakan yang signifikan intens dalam mengkampanyekan anti drugs, alcohol & freesex.
Secara filosofis pengertian straight edge merupakan sebuah gaya hidup dalam ssebuah lingkungan masyarakat yang berpola fikir positif dalam setiap kehidupannya. Tidak mengkonsumsi alcohol, tembakau, atau hal-hal yang berbau obat-obatan. Selalu berfikirpositif, cinta terhadap lingkungan sekitar baik itu hewan maupun tumbuhan. Menjunjung tinggi persatuan dan sesatuan. Tidak melakukan promiscuity (melakukan hubungan sex dengan cara berganti-ganti pasangan) atau bahkan tidak melakuan sex sebelum menikah. Sebagian orang straight edge ada yang melakukan “vegetarisme” bahkan “veganisme”.
Pada akhir tahun 70-an di Washington DC, USA, scene punk setempat menjadi kian bertambah banyak. Bersamaan dengan itu panggung-panggung pertunjukan semakin merajalela, namun hanya orang yang berusia diatas 21 tahun lah yang bisa masuk ke pertunjukkan tersebut dengan menghindari perlakuan-perlakuan yang buruk akibat massa yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. pertunjukkan yang mendapat pengecualian adalah pertunjukkan “untuk semuan umur”. Dalam pertunjukkan minoritas ini hanya menerima orang-orang yang di punggung tangannya tertera tanda “X” yang di tandai dengan cat untuk memisahkan mereka yang dari orang-orang yang mengkonsumsi alcohol. (dengan tanda “X” ini mereka dapat mudah dikenali sebagai minoritas yang tidak mengkonsumsi obat-obatan). Mereka pun mulai mengambil inisiatif untuk mencoba merubah segalanya secara perlahan-lahan melalui lirik, maupun tingkah laku untuk memerangi obat-obatan terlarang. Band-band punk yang menyuarakan kemuakannya terhadap obat-obatan terlarang semakin banyak bermunculan. Kemudian pada saat itulah hardcore scene lahir dari cikal bakal music punk dengan perkembangannya. Musik hardcore pun mulai merambah ke kawasan Eropa sehingga mulai banyak orang menjadikan hardcore sebagai “gaya” dalam bermusik mereka. Pikiran-pikiran dasar yang berakar dari punk pun menjadi bercabang dan tumbuh pula dikalangan hardcore scene, sebagai contoh: DIY (Do It Yourself). Seruan tentang politik dan kebebasan mulai digunakan yang imbasnya menekan semua elemen-elemen yang merusak dan digantikan dengan pesan-pesan yang berisikan kamanusiaan, lingkungan hidup, maupun pesan-pesan positif lainnya.
Pada awalnya istilah “straight edge” sendiri di adaptasi dari judul Minor Threat pada tahun 1981. Isi lirik dan lagu straight edge intinya adalah ada hal yang lebih baik dari mengkonsumsi narkoba lalu berakhir ‘tumbang’ di acara konser. Sampai akhirnya judul lagu tersebut gaya hidup bagi mereka yang sepaham dengan isi dan liriknnya. Sementara itu, Minor Threat menjadi band terkenal dikalangan semua umur sebagai band punk/hardcore masa itu yang manandai tangannya dengan tanda X sebagai cerminan rasa solidaritasnya terhadap anak yang dibaawah umur untuk tidak mengkonsumsi alcohol maupun obat-obatan terlarang bersama-sama. Sejarah awal simbol “X” di punggung tangannya adalah ketika band Teen Idles tour ke San Francisco dan bermain di sebuah club bernama Mabuhay Gardens. Sebelum mereka pentas, pihak manajemen club ternyata melarang Teen Idles pentas karena masih dibawah umur untuk masuk ke club yang menjajakan minuman keras. Namun setelah kompromi panjang, akhirnya pihak manajemen club memperbolehkan mereka pentas asalkan setiap personel yang dibawah umur diberi tanda “X” dipunggung tangannya dengan spidol sebagai tanda dibawah umur dan dilarng mengkonsumsi alcohol. Simbol “X” tersebut juga adalah untuk memudahkan bartender mengetahui mana yang minum dan mana yang tidak. Dari moment itulah akhirnya simbol “X” di punggung tangan menjadi simbol pergerakan “straight edge”.
Salah satu topic yang sering menjadi kontroversi dikalangan orang-orang straight edge adalah HARDLINE dengan gerakannya yang berbentuk “militan”. Militan anti-drugs, animal right position, pro lifers (menentang aborsi), dan pro choicers(hak-hak wanita) adalah berbagai aksi serta masalah utama yang sering diangkat pada pertengahan tahum ’90-an oleh hardcore scene dikawasan Amerika. HARDLINE adalah memaksa seseorang untuk menjadi straight edge. Selain itu dalam straight edge terdapat juga mereka yang mengamalkan veganisme, yaitu mereka yang tidak menggunakan sembarang bahan atau makanan dari hewan. Walau bagaimanapun, veganisme bukan sebagai/keharusan daripada straight edge itu sendiri. Youth Of Today adalah ban yang paling “vokal” menyuarakan perihal animals right, vegan dan vegetarian pada tahun 1988. Dalam lirik lagu “No More”, Ray Cappo vokalis Youth Of Today menekankan tentang pandangannya terhadap animals right dan vegan: “Meateating, flesh-eating, think about it/so callous this crime we commit”.
Bila dapat saya tarik kesimpulan, bahwa straight edge merupakan salah satu cara hidup yang sehat dan bersih. straight edge tidak mengikat kitam hanya kita yang memilih corak hidup kita sendiri. Selain itu, banyak orang yang beranggapan bahwa band-band scene indie terutama yang beraliran hardcore itu penuh dengan alkohol, drugs, dan freesex. Tapi semua itu dapat terbantahkan, memang tidak bisa dipungkiri masih banyak band-band yang beraliran seperti itu yang mempunyai prilaku tersebut. Walau demikian kultur barat adalah kultur yang otentik mereka yang selalu dijadikan kiblat bagi kita. Mungkin ini konsekuensi bagi kita sebagai Negara berkembang. Akan tetapi, setidaknya kita dapat mengambil nilai positifnya dan mengubah pandangan dasar terhadap scene indie itu sendiri kepada khalayak luas.
Ditulis oleh : egaUSELESS
PROUDLY PRESENT
Fiuuuh…. Setelah menempuh perjuangan yang cukup panjang, akhirnya Useless Creator kembali melakukan gerilyanya dalam bentuk acara music. Ya, acara itu tak lain adalah “United As One Chapter III” yang insya Allah akan diselenggarakan pada bulan Maret 2009 mendatang. Mungkin kalian masih adaya yang belum tahu apa sih “Useless Creator”. Even Organizer, kah??. Disini kita akan mencoba sedikit menjelaskan tentang komunitas tersebut. Useless Creator merupakan sebuah movement yang terbentuk sekitar tahun 2004. Dulu namanya masih Useless Youth, dan nama itu pun digunakan pada acara “United As One” pertama, yang diselenggarakan digedung Dezon Jl. Asia Afrika Bandung, pada tahun 2005. Bintang tamu yang hadir pada saat itu pun cukup beragam yaitu Righteightyeight, Voltusvictim, Komplete Kontrol, Heaven Fall, Over Dosis, dan masih banyak band-band indie lainnya.
Dengan seiring berjalannya waktu, Useless Youth pun merubah nama menjadi Useless Creator. Tidak hanya itu, tepatnya pada Januari 2008 Useless Creator membuat kompilasi band yang bertema “Melodic Way” dimana setiap bandnya mengusung gene melodic punk. Dengan begitu, maka lahirlah Useless Records yang hingga kini menjadi salah satu program kerja dari Useless Creator itu sendiri. Seiring waktu, Useless Creator kembali menyelenggarakan acara “United As One Chapter II” yang diadakan ki kampus STIE EKUITAS Jl. PHH. Mustofa, Bandung. Hingga saat ini, “UNITED AS ONE Chapter II” pun akan diselenggarakan di kampus yang sama.
Melalui berbagai perjalanan yang berliku dan mencapai proses metamorfosa, Useless Creator dapat dikatakan sebagai media alternative bagi siapapun yang ingin berkarya dan menuangkan ide-ide kreatifnya untuk kemudian direalisasikan dalam bentuk kolektif. Sehingga acara musik tersebut hanya merupakan bagian dari program kerja yang berbentuk Even Organizer. Selain itu, Useless Creator mempunyai slogan tersendiri yaitu “Art & Culture Movement” yang memiliki pemaknaan dalam menggali potensi-potensi seni dan budaya seluas-luasnya khususnya menyikapi budaya pop saat ini.
yaps, mungkin hanya itu yang dapat kita sampaikan mengenai Useless Creator dan pergerakannya. Setidaknya kita dapat berkarya dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar kita baik itu hal terkecil sekalipun……….
PUPPEN

Not A Puppen EP
Puppen - This Is Not A Puppen Song
Puppen - Sistem
Puppen - Hilang
Puppen - Freedom To Deficate
Puppen - Grind Hard
Puppen - Violent Youth
Puppen - Sistem (Demo)
Download All Track
MK II
Puppen - Hijau
Puppen - Nihil
Puppen - Kendali
Puppen - Get A Real Job Mo
Puppen - Parah
Puppen - Atur Aku
Puppen - True
Puppen - United Fist
Download All Track
Self Titled
Puppen - Atur Aku (Cavity Mix)
Puppen - Lelah (Loco Mix)
Puppen - United Fist (Fuzz Mix)
Download All Track 
Mark II Remastered (2004)
Puppen - Abstain
Puppen - Atur Aku
Puppen - Hijau
Puppen - Pecundang
Puppen - Sistem
Puppen - True
Puppen - Abstain?
Puppen - United Fist
Puppen - Dansa
Puppen - Tanpa Dasar (Released on V.A. - Injak Balik)
Puppen - Memar Terpatri (Unreleased)
Puppen - Tercitra (Unreleased)
Download All Track
USELESS RECORD - MELODIC WAY COMPILATION
USELESS RECORD - MELODIC WAY COMPILATION
mengusung tema melodic, USELESS YOUTH, dengan divisi USELESS RECORD membuat suatu kompilasi yang bertemakan "Melodic Way Compilation Vol 1" yang didalamnya berisi lagu - lagu dari berbagai band yang ada d indonesia khususnya Bandung dan Jakarta.
dan baru - baru ini USELESS YOUTH berencana untuk membuat kembali Compilation Vol 2 yang bertemakan Hardcore.
Coming Soon ".................Compilation Vol 2"
Rockster Midlands - Hayal
Stupid Syndrome - Runaway
Your Stories My Alibis - Left Behind
Boys addict - Just Dreaming
Arabian Peanuts - Lagu Gila
Life in General - Today & Tonight
Memories of Bally - Mimpi
Like Father Like Son - Cocoboy
The Frustater - Penghianatan
Homesick Fever - Sirnalah
The Homous - My Life as a teenage superstar
Bestbefore - Set at Ease
INFAMY

INFAMY, , , ,
band metal yang berasal dari kota Bandung ini dibentuk pada awal tahun 1994 dengan mengusung konsep musik death metal dan “low end sound”. Sebuah kebanggan karena dengan konsep itu, INFAMY sering mengadakan live performance di acara-acara bazaar amal, acara sekolah dan acara musik underground. Pada tahun 1998 INFAMY merekam sebuah single yang berjudul Days Of Dreaming untuk sebuah album kompilasi indie, Brutally Sickness, dan merekam Pseudophoria untuk album kompilasi Brutally Sickness 4 pada tahun 2000. Juga pada tahun 1999 INFAMY merekam promo tape yang berisikan lima lagu, yaitu; Self Eliminated, Beyond The Flesh Of Innocence, 5th Horizon, Vision Of True Belief dan Days Of Dreaming (remixed version). INFAMY juga turut serta dalam Brutally Sickness Tour pada tahun 2000 dan sering membuat gempar, seperti dalam acara Kill The Loneliness, Bandung Berisik, Bandung Underground, Bandung Noise Freak, Bali Underground, One Blood The Struggle Continues, Java Underground, Jogja Brebek, dan acara-acara lainnya.
Musik INFAMY sendiri banyak terinspirasi oleh band seperti Metallica, Slayer, Pantera, Slipknot, Korn, Napalm Death, Fear Factory, Red Hot Chili Peppers, Mudvayne, Meshuggah dan lainnya. Pada tahun 2000 INFAMY mengubah konsep bermusik yang menjadi lebih mewakili INFAMY sendiri yang mereka sebut “Low Rockin’ Razor Metal”, karena secara mendasar INFAMY ingin menggabungkan konsep musik death metal yang gahar dengan warna musik modern metal. Hasilnya, album yang bertitel INFAMY yang berisikan delapan buah lagu yang masing-masing memiliki kekuatan tersendiri. Album ini didedikasikan untuk fans INFAMY dan mahluk bumi lainnya, dan juga sebagai bukti dari eksistensi perjalanan karir INFAMY.
Akhir kata, INFAMY adalah sebuah maha karya yang dipersembahkan oleh sang pencipta untuk mereka yang menantikan sebuah karya seni musikal yang jujur dan mempunyai sentuhan warna tersendiri.
